Website Resmi Bappeda Purwakarta

Senin, 3 Agustus 2015

Mengemas Pembangunan Lewat Budaya

Kabupaten Purwakarta memperlihatkan perkembangan yang menarik. Sebab, paling tidak sejak lima tahun terakhir, Purwakarta melakukan sesuatu yang tak lazim dalam konteks politik birokrasi dan kebijakan pembangunan. Lumrahnya, birokrasi pembangunan di berbagai kota/Kabupaten berwatak kaku karena memegang teguh prinsip legal-formal sehingga tubuh birokrasi berjarak dari tubuh masyarakat.

Inilah yang membedakan Kabupaten Purwakarta dari kelaziman semacam itu. Yakni, politik pembangunan atau birokrasi  pemerintahan yang mengemas produk kebijakannya lewat pendekatan budaya. Selain itu, pendekatan budaya tampaknya akan di taruh pula sebagai strategi demi memberi karakter pada Purwakarta sebagai sebuah wilayah administrasi politik.

Namun, bagi kalangan awam, pengertian budaya selalu terkesan sebagai sesuatu yang adiluhung; sedangkan praktik-praktik pemerintahan meniscayakan sesuatu yang konkret sebab bertalian dengan tertib administrasi dan hukum. Maka, politik pembangunan melalui pendekatan semacam ini menimbulkan pertanyaan,  bagaimanakah implementasinya di tataran kebijakan atau dalam teknis pemerintahan?

Penataan kota atau ornamen estetika lokal mungkin bisa menjawab pertanyaan tersebut. Belum lagi sejumlah  kebijakan seperti pemasangan listrik gratis bagi masyarakat  miskin, asuransi kesehatan bagi seluruh masyarakat Purwakarta, biaya pendidikan gratis SD hingga SMA, bantuan ternak kambing bagi siswa-siswi SD, setidaknya bisa menjawab pertanyaan di atas.

Inovasi dan niscaya

Pakar hukum Tata Negara Dr. Asep Warlan memandang, di tempatkannya budaya sebagai basis dalam mengelola birokrasi pemerintahan seperti yang terjadi di Purwakarta, merupakan sebuah inovasi yang menarik di tengah praktik politik pemerintahan  atau hukum yang sering kali kaku. Menurut dia, sepanjag budaya itu tidak menyimpang dari agama, etika, norma, dan adat masyarakat,  hal itu merupakan terobosan baru. Termasuk bagi keperluan reformasi birokrasi.“Satu diantara sekian banyak kesulitan kita melakukan reformasi kinerja birokrasi adalah sifatnya yang  sangat formal legalistik,” tuturnya.

Senada dengan Dr. Asep Warlan, dalam pandangan budayawan Sujiwo Tejo, pendekatan budaya semacam itu sangatlah efektif dalam tata kelola pemerintahan.  Menuturkan pengalamannya ketika beberapa kali diundang sebagai narasumber dalam sejumlah diskusi di Purwakarta,  Sujiwo Tejo mengatakan, pada awalnya banyak orang kaget dan merasa aneh dengan pandangan-pandangannya ikhwal agama atau pancasila. ”Namun, lama kelamaan masyarakat mulai enjoy menerima perbedaan. Demikian juga dengan diskusi sawala budaya itu yang  mulai ramai dan selalu hangat,” katanya.

Oleh sebab budaya itu niscaya, maka apa yang berlangsung di Purwakarta  mustilah di sebut  bukan sebagai ketidaklaziman. Itu menjadi tak lazim karena selama ini birokrasi  pemerintahan di jalankan  secara tak lazim, sebab kepala daerahnya tidak memahami  apa itu budaya.

Dr. Asep Warlan menolak pemahaman budaya sebagai sesuatu yang adilihung. Baginya, dalam konteks birokrasi pemerintahan, budaya itu mestinya amat melekat. “Sebutlah, budaya malu atau budaya tepat waktu,” katanya.

Karena budaya ini niscaya, bagi Sujiwo Tejo, pendekatan budaya seperti di Purwakarta tentu sangat di terapkan di berbagai daerah lainnya, dan sangat bergantung pada kemauan Pemimpinnya. “Bagaimanapun, budaya itu santapan rohani manusia. Seorang kepala daerah di sini bisa jadi pemantiknya, sehingga antara rakyat dan pemimpinnya akan nyambung.”paparnya.

Figur dan Sistem

Fiigur seorang kepala daerah dalam hal ini memang sangat menentukan, sekaligus  juga jadi mencemaskan.Dalam konteks Purwakarta,  seluruhnya memang terpusat pada Dedi Mulyadi. Bahkan, kuat terkesan ia menjadi One man show ketimbang pendekatan budaya tersebut menjadi sebuah sistem. “Ya, inilah celakanya, bukan atau belum menyerap ke dalam sistem, masih bergantung pada figur. Setelah kang Dedi nanti seperti apa? Tentu dia memikirkan pengkaderan, tapi orang-orang semacam ini tidaklah di cetak, melainkan lahir dari pemahaman, pergaulan, dan pengalaman,” ujar Sujiwo Tejo.

Karena itu, menurut Dr. Asep Warlan, untuk menjadi suatu sistem, di perlukan upaya untuk menginternalisasikannya. Beragam tampilan kesenian merupakan bentuk internalisasi yang sederhana,sebelum seluruhnya menyerap ke dalam birokrasi demi membangun kebijakan. “Hemat saya, tidak cukup dengan One man show saja, akan tetapi harus di bangun rujukan atau blue printnya, sehingga budaya menjadi grand design politik pembangunan,” kata Dr. Asep Warlan.***

Sumber: Pikiran Rakyat, foto hanya ilustrasi

 

Memberdayakan Masyarakat Melalui Kearifan Lokal

Kabupaten Purwakarta dibawah kepemimpinan Bupati Dedi Mulyadi dinilai mampu mengembangkan keunggulan melalui kearifan lokal. “Saya kira tak ada yang salah jika kearifan lokal menjadi bagian dari proses pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Seperti membangun pertanian organik, menjaga kelestarian alam, mengembangkan budi pekerti anak-anak,” kata Drs. Marwan, Dirjend Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kementrian Dalam Negeri.

Marwan menambahkan, ada dua hal menarik dari Kabupaten Purwakarta saat ini. “Selain menggali potensi dan pembangunan daerah melalui kearifan lokal, Purwakarta juga memiliki komitmen kuat bagaimana menyelamatkan dan mengembangkan kesenian daerah Sunda,” tuturnya.

Otonomi daerah memang memberikan ruang kepada daerah mengembangkan diri dalam meningkatkan pelayanan hingga ujungnya Indeks Pembangunan Manusia meningkat. Selain itu, Bupati Dedi Mulyadi juga membuka peranmasyarakat dalam pembangunan. “Peran itu bisa kritik, juga aktif langsung misalkan mengembangkan kesenian. Selain itu, Purwakarta kini menjadi daerah yang mampu menarik investor.

Purwakarta kini juga terkenal sebagai daerah peduli dengan budaya dan seni. Beberapa kegiatan budaya sering digelar di Purwakarta. Selain itu, Bupati Dedi Mulyadi juga terkenal di kalangan seniman nasional dan sudah tentu di Jawa Barat karena setiap Sabtu menggelar acara Safari Budaya, keliling Jawa Barat.

Hj. R. Ida Nurhaida, SPd, MM, Kepala SMA Negeri 7 Bekasi beruntung memiliki bupati yang memiliki rasa kepedulian yang tinggi terhadap seni dan masyarakatnya. “Saya sangat simpati dengan sikap beliau yang memikirkan rakyat kecil. Perhatian terhadap seni budaya sangat tinggi. Sekolah kami salah satu sekolah yang dikunjunginya saat Safari Budaya,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Drs. Sofian, Kepala SMKN 18 Garut. “Purwakarta kini menjadi daerah yang maju karena memiliki pemimpin yang kreatif dan inovatif, terutama dalam melestarikan budaya Jawa Barat, memperhatikan hal-hal prinsip yang dibutuhkan rakyat,” tutur Sofian.

Sementara itu, Drs. DidihSaefudin, MPd, Kepala SMAN 1 Rajagaluh juga mengakui perubahan yang terjadi di Purwakarta saat ini. “Pembangunan Purwakarta begitu pesat. Namun, saya lihat Purwakarta juga tetap peduli dengan seni budaya. Ini yang harus menjadi perhatian daerah lain,” kata Didih.(Sumber: Pikiran Rakyat, A-86)

 

Sentuhan Rasibu Untuk Situ Buleud

Awalnya, sekumpulan mahasiswa yang sebagian besar berasal dari Universitas Purwakarta hanya sering berdiskusi. Mereka bertukar pandangan tentang berbagai kebijakan pemerintah daerah. Tidak hanya lantang dalam mengkritik, kumpulan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Student Government (FSG) ini pun mengapresiasi  berbagai kebijakan pemerintah daerah yan meraka anggap sesuai dengan harapan masyarakat.

Penataan ulang tata ruang kota menjadi lebih indah, khas serta asri merupakan salah satu kebijakan pemerintah daerah yang mereka acungi jempol. Apalagi, saat melihat penataan ulang Situ Buleud menjadi lebih indah, dengan ornamen gapura Malati Sapasi, serta jogging track, telah menjadikan situ kebanggaan masyarakat Purwakarta itu menjadi salah satu ruang publik yang diminati warga.

Selengkapnya...
 
Ingat saya
You need Flash player 6+ and JavaScript enabled to view this video.

Pembangunan di Kab. Purwakarta yang paling menonjol saat ini :
 
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini29
mod_vvisit_counterKemarin479
mod_vvisit_counterMinggu ini1167
mod_vvisit_counterMinggu lalu2697
mod_vvisit_counterBulan ini1629
mod_vvisit_counterBulan lalu14773
mod_vvisit_counterSemuanya387723

Ada: 1 pengunjung, 2 bots online
IP Anda: 54.227.13.34
 , 
Sekarang : 04 Agu, 2015
"Klik pada Kolam untuk memberi pakan Ikan"