Website Resmi Bappeda Purwakarta

Sabtu, 25 Oktober 2014

    Kembangkan Potensi Wilayah

      Penampilan bupati yang satu ini memang terlihat berbeda dengan bupati lainnya. Salah satu yang membedakan yaitu dari pakaian kerja keseharian yang dipakai. Dia jarang menggunakan pakaian jas, baju safari, pakaian dinas lapangan, atau pakaian dinas harian berwarna coklat. Dalam  keseharian, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ini memilih baju kampret berwarna hitam-hitam atau putih-putih, dengan iket yang membungkus bagian kepalanya. Pakaian tersebut tidak pernah lepas dari Dedi Mulyadi, mulai menjadi Wakil Bupati Purwakarta tahun 2003, sampai sekarang.

      Ia sempat menjadi bahan cemoohan orang dengan memakai pakaian khas sunda tersebut. Ia juga dianggap melanggar etika birokrasi. Padahal, katanya, pakaian seragam yang digunakan oleh PNS atau pakaian jas, pakaian dinas harian dan lainnya, itu warisan Belanda. Keyakinan Dedi, pakaian yang dia gunakan tidak melangggar etika. Dia mampu menjelaskan secara bijaksana atas pakaian khas yang digunakannya.

      Sekarang, Dedi bisa diterima di mana-mana, baik ketika ke Gedung sate (kantor Gubernur) sampai ke Istana Negara di Jakarrta. Bahkan PNS di Pemkab. Purwakarta sudah biasa menggunakan pakaian khas hitam-hitam atau putih-putih. Alasan memakai kampret karena sebuah keyakinan bahwa pakaian tersebut sudah di sesuaikan dengan kondisi alam. Leluhur Sunda membuat karakter pakaian sebagaimana dia pakai sekarang, telah diserasikan atau dipadukan dengan lingkungan, mulai suhu udara, terik sinar matahari, air, dan tanah. ”Jadi saya hanya menjalankan amanah alam,” ujar Dedi ketika menerima “PR” di Gedung Kembar,Purwakarta,baru baru ini.

      Pria kelahiran Subang, 12 April 1971 itu menegaskan prinsipnya selalu mengembangkan sesuatu itu berdasarkan potensi alam atau karakter yg dimiliki di daerahnya. Menurut dia, Purwakarta punya beragam karakter, dari mulai karakter masyarakat industri hingga sebagai masyarakat pertanian. Termasuk didalamnya adalah perikanan, perkebunan, peternakan, kehutanan dan berbagai potensi yang dimiliki, termasuk potensi-potensi yang bersifat identitas lokal masyarakat.

      Kerangka itulah yang ingin ia kembangkan. Tidak ada kekuatan untuk membangun sebuah bangsa kecuali berasal dari kekuatan bangsa itu sendiri. Sementara kekuatan bangsa ini sebenarnya adalah kultur wilayahnya. Kekuatan kultur yang ditopang oleh kekuatan manusianya. “Dengan demikian, menurut saya, setiap orang harus terintegrasi dengan potensi disekitarnya,” kata Dedi.

      Konsep pembangunan yang dijalankan di Purwakarta, berusaha fokus berbasis kearifan lokal. Seperti di bidang kesehatan, saat ini tengah dikembangkan obat-obatan herbal dengan memanfaatkan dari alam, termasuk dia ingin membangun pusat pengobatan tradisional untuk patah tulang. Selama ini, banyak warga di daerahnya memiliki kemampuan dalam pengobatan tradisional untuk korban kecelakaan yang patah tulang dan lainnya.

      Salah satu terobosan lain dilakukan oleh Dedi, sekarang semua warga Purwakarta di asuransikan. Premi asuransi warga Purwakarta yang ditanggung yaitu di luar pegawai negri sipil, Polri/TNI, buruh pabrik (diasuransikan tersendiri oleh pemerintah dan perusahaan swasta). “Warga bekerja di sektor informal, baik itu penarik becak, guru ngaji, dan lainnya sudah kita asuransikan sehingga terjamin. Dengan demikian, mereka akan tenang kalau berobat/rawat inap atau kalau ada apa-apa,” katanya.

      Pemkab. Purwakarta mengalokasikan sekitar Rp 75 M untuk premi 100.000 keluarga. Manfaatnya sekarang banyak dirasakan, sejumlah warga yang harus rawat inap atau harus operasi, telah ditanggung beban biayanya oleh pihak asuransi. Kebijakan tersebut merupakan komitmen pemerintah dalam memberikan jaminan perlindungan kesehatan untuk semuan warga. Dia ingin warganya sehat, produktif, dan memberikan manfaat untuk kepentingan semua.

      Ke depan, dia ingin memberikan jaminan hari tua (JHT) buat warganya. Dengan demikian, ketika para petani, buruh tani, atau warga lainya saat hari tua, ada jaminan kesehatan dan lainnya. ”Biar mereka tenang juga,” katanya.

      Soal warga miskin di Purwakarta, mulai tahun 2013 dia akan memperbaiki kondisi keluarga miskin tersebut. Caranya, rumah keluarga miskin itu di perbaiki dan diberi modal kerja. ”Saya hitung kebutuhan untuk memberdayakan atau recovery keluarga miskin membutuhkan Rp 1,3 triliun. Mulai tahun depan, kegiatannya akan kita lakukan. Rumah keluarga miskin secara bertahap diperbaiki dan diberikan modal untuk usaha agar mereka mandiri dan produktif,” katanya.

      Begitu juga pembangunan dalam bidang lainnya. Sudut pandang seluruhnya berusaha dalam kerangka pembangunan sudut pandang kesundaan. Makanya, dalam bidang pendidikan harus lahir kurikulum bebasis kesundaan atau etika sunda. Implementasinya, seperti dalam bidang pendidikan, Dedi telah melahirkan peraturan bupati soal pengembangan pendidikan budi pekerti yang harus dikembangkan di semua sekolah.

      Dia juga meminta kepada anak-anak sekolah di Purwakarta untuk membawa makanan dari rumah masing-masing atau peraturan soal rantang. Tujuan dari kebijakan tersebut, pada satu sisi agar kesehatan anak-anak selama di sekolah terjaga. Banyak makanan dijajakan disekolah kurang sehat. Dengan membawa makanan dari rumah, diharapkan kualitas gizi dan kesehatan terukur.

      Lebih dari itu, agar siswa atau sama lain berbagi makanan dari rantang yang dibawa. Di sekolah juga siswa harus berdoa bersama, salat duha, lalu sandal dibuka pada saat masuk kelas. ”Adat kesundaan itu disitu dikembangkan,” katanya. Berbicara masalah makanan organik, saat ini di Purwakarta dikembangkan pertanian demikian. Produksi bisa meningkat dan juga menyehatkan untuk dikonsumsi. Saat ini pengembangan budi pekerti dan tradisi membawa makanan ke sekolah sudah berjalan. ”Secara brtahap memang, tapi sudah menunjukkan hasil, karena masyarakat juga memberikan dukungan,” katanya.

      Mulai tahun depan, Dedi akan mencanangkan pelajar perempuan di desa untuk menenun, sedangkan laki-lakinya berternak domba. Cara itu untuk menumbuhkan kewirausahaan dan kemandirian anak-anak desa.

      Toh, dia bukan tidak kecewa. Daerah Purwakarta yang memiliki pembangkit listrik juga menjadi sebuah ironi, karena ada 40.000 rumah disekitar pembangkit listrik yang belum menikmati listrik. “Sekarang langkah Pemkab Purwakarta utuk menerangkan warga yang belum menikmati listrik disekitar pembangkit lisstrik,” ujarnya.(Undang Sudrajat/-“PR”)***

        • Dibaca: 1372 kali

        TCE-Plugin by www.teglo.info

         
        Ingat saya
        You need Flash player 6+ and JavaScript enabled to view this video.

        Pembangunan di Kab. Purwakarta yang paling menonjol saat ini :
         
        mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
        mod_vvisit_counterHari ini79
        mod_vvisit_counterKemarin1501
        mod_vvisit_counterMinggu ini3277
        mod_vvisit_counterMinggu lalu3178
        mod_vvisit_counterBulan ini11452
        mod_vvisit_counterBulan lalu14459
        mod_vvisit_counterSemuanya268932

        Ada: 2 pengunjung online
        IP Anda: 54.196.168.236
         , 
        Sekarang : 25 Okt, 2014
        "Klik pada Kolam untuk memberi pakan Ikan"